tanggal 29 bulan 4 tahun 2010, hari kamis.
malam ini aku kembali melihat bulan yang purnama.
penuh, tak ada cela sedikitpun.
malam ini bulan muncul setelah gerimis dan hujan yang menghiasi langit bandung.
angin riuh bertiup, menggugurkan daun demi dauun tua yang telah siap digantikan.
digantikan oleh pucuk hijau muda yang tengah bersiap untuk kemarau yang segera tiba,
turut menggantikan paruh terakhir musiim hujan, yaitu musim gugur.
lama aku memandangi bulan, yang tiada bintang menemaninya.
sunyi hinggap diantara kami dan memelintir keindahan semu itu menjadi sesuatu yang menyedihkan.
aku kembali melihat sinar matanya di dalam temaram sinar bulan purnama,
yang membuatku kembali harus menelan ludah dan tak berhanti melihat tanah,
gundukan coklat yang tidak padat, gundukan pasir yang ditemani kerikil,
tidak dianggap olehmu selama ini, ibarat aku kerikil dan dia bulan.
berbincang dengan bulan di malam ini bukan sesuatu yang salah, dan bukan sesuatu yang parah.
karena bulan tak bicara tetapi memacu inspirasi,
inspirasi memacu aspirasi bicara.
aku seperti dedaunan yang tertiup angin,
terputus dari dahannya dan lepas terombang ambing dilema,
kegalauan dan kegamangan akan sesuatu yang tidak kita ketahui seperti mencemaskan sesuatu yang tidak nyata.
nada demi nada mengalun sunyi dari hembusan sepi angin malam,
deru motor masih sayup-sayup terdengar di kejauhan.
menemani saat aku mengetik tulisan ini, dimana saat bulan pun semakin menaik, mencapai puncaknya dan turun lagi.
sebagaimana bulan, semua memiliki siklus yang pasti akan dijalani,
seperti grafik sinus yang terus naik dari nilai nol mencapai satu, lalu turun ke nol, menuju min satu,
kembali ke nol dan kembali ke satu dan seterusnya, selama sudut itu terus berputar hingga takhingga derajat.
seperti aku juga, saat rasa itu mulai muncul, ia terus naik ke atas, lalu jatuh ke bawah.
lama, kemudian naik lagi, dan jatuh. seperti peribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan jatuh juga.
malam semakin larut dan aku pun masih larut dalam kegiatan ini, mengetik hasil pemikiran otak kanan,
sembari menikmati malam, yang esok pagi akan menikam dengan lelah yang terasa.
satu satunya yang salah disini ialah ketika aku mulai membayangkan dia malam ini, tertidur mungkin dengan senyuman yang dikulum hingga esok pagi,
dengan lelapnya karena lelahnya ia menghadapi hari ini,
tentu seperti lelahnya kedua orangtuaku menghadapi kerasnya dunia, mencari nafkah kesana kemari.
mungkin sudah semestinya aku melupakan dia, kembali berjalan dihempas angin lalu,
ditemani tarian dedaunan dan debu, dan juga orkestra alam, riuh daun dan nada mayor serta minor yang terbentuk tanpa kita sadari.
tetapi aku tetap diam di persimpangan, sekalipun aku telah berniat untuk melangkah lagi, aku kembali diam di sebuah persimpangan.
diam dan diam, menunggu ataukah melaju?
sekali lagi malam telah menjadi semakin dan semakin larut, dan aku pun semakin larut didalamnya.